Senin, 04 April 2011

Vaksin Hepatitis B

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.1.      LATAR BELAKANG


Istilah "Hepatitis" dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (liver). Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional. Virus hepatitis juga ada beberapa jenis, hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G. Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut ( hepatitis A ) dapat pula hepatitis kronik ( hepatitis B,C ) dan adapula yang kemudian menjadi kanker hati    ( hepatitis B dan C ).

           

1.1.2. RUMUSAN MASALAH

            Dengan latar belakang yang penulis paparkan di atas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
  • Apa yang dimaksud vaksin hepatitis B?
  • Apa manfaat vaksin hepatitis B?



1.1.3. TUJUAN

            Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :

  • Dapat mengetahui apa yang di maksud vaksin hepatitis B
  • Dapat mengetahui manfaat vaksin hepatitis B
BAB II
PEMBAHASAN
I.                   PENGERTIAN
            Pengertian Hepatitis
Istilah "Hepatitis" dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (liver). Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional. Virus hepatitis juga ada beberapa jenis, hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G. Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut ( hepatitis A ) dapat pula hepatitis kronik ( hepatitis B,C ) dan adapula yang kemudian menjadi kanker hati    ( hepatitis B dan C ).
1.2 Macam – Macam Virus Hepatitis Seperti Dibawah Ini :
1.Hepatitis A
Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala, sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu, rasa lelah, demam, diare, mual, nyeri perut, mata kuning dan hilangnya nafsu makan. Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Orang yang terinfeksi hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut. Berbeda dengan hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak berlanjut ke hepatitis kronik. Masa inkubasi 30 hari.Penularan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feces pasien, misalnya makan buah-buahan, sayur yang tidak dimasak atau makan kerang yang setengah matang. Minum dengan es batu yang prosesnya terkontaminasi.
Saat ini sudah ada vaksin hepatitis A, memberikan kekebalan selama 4 minggu setelah suntikan pertama, untuk kekebalan yang panjang diperlukan suntikan vaksin beberapa kali. Pecandu narkotika dan hubungan seks anal, termasuk homoseks merupakan risiko tinggi tertular hepatitis A.
2.Hepatitis B
Gejala mirip hepatitis A, mirip flu, yaitu hilangnya nafsu makan, mual, muntah, rasa lelah, mata kuning dan muntah serta demam. Penularan dapat melalui jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi, transfusi darah dan gigitan manusia.
Pengobatan dengan interferon alfa-2b dan lamivudine, serta imunoglobulin yang mengandung antibodi terhadap hepatitis-B yang diberikan 14 hari setelah paparan. Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa tahun yang lalu. Yang merupakan risiko tertular hepatitis B adalah pecandu narkotika, orang yang mempunyai banyak pasangan seksual.
3. Hepatitis C
Menyebabkan minimal 80% kasus hepatitis akibat transfusi darah. Virus hepatitis C ini paling sering ditularkan melalui pemakai obat yang menggunakan jarum bersama-sama. Jarang terjadi penularan melalui hubungan seksual. Untuk alasan yang masih belum jelas, penderita "penyakit hati alkoholik" seringkali menderita hepatitis C.
4.Hepatitis D
Hepatitis D Virus ( HDV ) atau virus delta adalah virus yang unik, yang tidak lengkap dan untuk replikasi memerlukan keberadaan virus hepatitis B. Penularan melalui hubungan seksual, jarum suntik dan transfusi darah. Gejala penyakit hepatitis D bervariasi, dapat muncul sebagai gejala yang ringan (ko-infeksi) atau amat progresif.
5.Hepatitis E
Gejala mirip hepatitis A, demam pegel linu, lelah, hilang nafsu makan dan sakit perut. Penyakit yang akan sembuh sendiri ( self-limited ), keculai bila terjadi pada kehamilan, khususnya trimester ketiga, dapat mematikan. Penularan melalui air yang terkontaminasi feces.
6. Hepatitis F
Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan. Saat ini para pakar belum sepakat hepatitis F merupakan penyakit hepatitis yang terpisah.
7.Hepatitis G
Gejala serupa hepatitis C, seringkali infeksi bersamaan dengan hepatitis B dan/atau C. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan ataupun hepatitis kronik. Penularan melalui transfusi darah jarum suntik. Semoga pengetahuan ini bisa berguna bagi Anda dan dapat Anda teruskan kepada saudara ataupun teman Anda.

1.3 Pengertian Virus Hepatitis B

Hepatitis B adalah suatu penyakit infeksi yang dapat merusak hati. Penyebabnya adalah virus Hepatitis B. Penyakit ini dapat berlangsung lama dan menjadi berat. Dari beberapa jenis penyakit hati akibat virus, yang paling berbahaya adalah Hepatitis B.
Ada beberapa cara penularan penyakit Hepatitis B. Pencemaran kulit orang sehat oleh darah seorang penderita, mudah menularkan penyakit virus. Faktor lain adalah pemasang tatto, menindik telinga, pengobatan secara tusuk jarum, penyalahgunaan obat dan transfusi darah. Penularan dapat pula terjadi melalui hubungan seksual, air liur, keringat, mani dan melalui serangga-serangga penghisap darah, misalnya nyamuk. Juga bisa terjadi bila kulit luka, tersentuh benda-benda yang mengandung virus, misalnya sikat gigi, barang mainan, botol bayi, alat cukur, gelas minum, sarung tangan karet, handuk, alat-alat rumah sakit, dan lain sebagainya.
Di dunia ini diperkirakan terdapat 250 juta orang telah menjadi carrier Hepatitis B. Dari jumlah itu, sekitar 200 juta orang terdapat di beberapa negara Asia. Di negara-negara Asia Tenggara diperkirakan bahwa 10-25% dari penduduknya sudah menjadi carrier Hepatitis B. Jumlah yang pernah terkena infeksi jauh lebih tinggi lagi. Di Indonesia diperkirakan jumlah carrier Hepatitis B sekitar 10% dari jumlah penduduk. Obat-obatan yang ada sampai sekarang hanya untuk perawatan pendukung dan lebih dimaksudkan mencegah komplikasi yang mungkin timbul. Sampai saat ini belum ada pengobatan yang mampu menyembuhkan Hepatitis B
Penyakit Hepatitis B yang telah kronis mengakibatkan kerusakan hati. Sifat kekronisan ini telah membawa hati ke tahap sirosis hati akibat virus.
Oleh karena itu hepatitis B adalah satu di antara penyakit menular yang berbahaya. Virus hepatitis menyerang hati dan mengakibatkan peradangan hati. Sebenarnya terdapat tujuh macam virus hepatitis yaitu A, B, C, D, E, F, dan G. Namun di antara ketujuh itu hepatitis B yang berbahaya sebab dapat mengarah menjadi kanker hati penyebab kematian.
II.CARA PENCEGAHAN PENYAKIT BERBAHAYA HEPATITIS B
2.1 Gejala Hepatitis B
Gejala mirip flu, yaitu hilangnya nafsu makan, mual, muntah, rasa lelah, mata kuning dan muntah serta demam.
2.2 Resiko Tertular Penyakit Hepatitis B
1. Penularan dapat melalui jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi,      transfusi darah dan gigitan manusia.
2. Penggunaan alat-alat kebersihan seperti sikat gigi, gelas, piring makan                   secara bersama-sama juga bisa menjadi media penularan virus hepatitis B.
3. Umumnya penularan tersebut terjangkit dengan cara pertukaran cairan tubuh
4. Merupakan risiko tertular hepatitis B adalah pecandu narkotika, orang yang mempunyai banyak pasangan seksual.
5. Anggota Militer yang akan melakukan operasi militer atau berada didaerah yang rawan akan kecelakaan atau daerah beresiko tinggi mengalami luka.
6. ibu kepada anak saat melahirkan bayi

            Perkiraan para ahli penyakit menular, di dunia setiap tahun sekitar 10 hingga 30 juta orang terjangkit virus hepatitis B
Secara umum penyakit hepatitis B bisa menyerang siapa pun dari semua golongan umur. Tetapi umumnya yang terinfeksi adalah orang pada usia produktif. Keadaan ini tentu merugikan karena usia produktif amat dibutuhkan masyarakat suatu bangsa yang sedang giat melaksanakan pembangunan.
            Presiden Perkumpulan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Prof Dr Laurentius A Lesmana, mengungkapkan tingkat prevalensi penyakit hepatitis B di Indonesia sebenarnya cukup tinggi. Secara keseluruhan jumlahnya mencapai 13,3 juta penderita. Dari sisi jumlah, Indonesia ada di urutan ketiga setelah Cina (123,7 juta) dan India (30-50 juta) penderita. "Tingkat prevalensi di Indonesia antara 5 hingga 10 persen,".

            Pada level dunia, penderita hepatitis B memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Menurut Prof Lesmana, jumlah penderita hepatitis B di kawasan Asia Pasifik memang lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Hal itu bisa terjadi karena di Eropa atau Amerika, hepatitis B diderita oleh orang dewasa. Sedangkan di Asia Pasifik umumnya diidap oleh kalangan usia muda.

           Pertumbuhan penderita hepatitis B tersebut, lanjut Prof Laurentius dipengaruhi oleh masalah demografi, social dan faktor lingkungan. Di sisi lain juga karena faktor virus yaitu genotip dan mutasi virus. Secara genotip, Indonesia merupakan daerah menonjol untuk jenis hepatitis B dan C.

           Menurut Prof Lesmana, pemerintah seharusnya memperhatikan juga penyakit hepatitis B sejajar dengan penyakit ginjal dan penyakit lainnya seperti HIV/AIDS dan flu burung. Pemerintah mestinya memasukkannya ke program Askeskin sehingga bisa meringankan pasien di Indonesia. "Ini yang sedang kita perjuangkan," katanya. (Mangku)
2.3 Terapi Terkini
            Perusahaan farmasi internasional Bristol Myers Squibb pada 14 April 2007 lalu mengumumkan sebuah riset tentang resistensi virus hepatitis B terhadap obat yang diberikan. Bristol mengklaim data yang terkumpul selama 4 tahun (n=663) terakhir menunjukkan insidens resistensi entecavir tetap rendah pada pasien hepatitis B kronik yang belum pernah mendapatkan terapi nukleosida. Entecavir merupakan obat paten yang dikeluarkan oleh Bristol. Obat tersebut merupakan obat resep dokter yang digunakan untuk infeksi virus hepatitis B kronik pada orang dewasa akibat multiplikasi virus yang merusak jaringan hati. Sayangnya belum ada studi penggunaan entecavir untuk penderita di bawah usia 16 tahun.
           
Pihak Bristol sendiri tak menampik efek penggunaan entecavir meski efikasinya tinggi. Pasien yang mengonsumsi entecavir harus segera memberitahukan ke dokter bila timbul gejala lemah, nyeri otot yang tak wajar, sulit bernapas, nyeri lambung (mual dan muntah), demam, pusing, dan denyut jantung cepat dan tak teratur. Menurut pihak Bristol efek samping tersebut mengindikasikan adanya kondisi serius yang disebut asidosis laktat. Efek samping tersebut merupakan gawat darurat dan harus ditangani di rumah sakit.
           Dari analisa riset tersebut, hanya 2 pasien atau kurang dari 1 persen yang mengalami lonjakan virologis akibat resistensi entecavir pada tahun ketiga. Sementara pada tahun keempat tidak ada tambahan pasien yang mengalami resistensi. Sedangkan pada lamivudine, obat etik yang sudah sejak lama digunakan untuk terapi hepatitis B, ditemukan data resistensi terhadap lamivudine terjadi pada 15 persen pasien selama tahun keempat. Riset itu sendiri sudah dipresentasikan pada pertemuan tahunan ke-42 Asosiasi Riset Penyakit Hati Eropa (EASL) di Barcelona, Spanyol.
Menurut riset tersebut resistensi terjadi saat virus bermutasi guna menghindari efek obat. Bagi kalangan ahli penyakit hati hal tersebut tantangan tersendiri karena resistensi dapat menurunkan efikasi obat ketika terapi sedang dilakukan. Hal tersebut tentu membahayakan masa depan pengobatan penyakit hepatitis B.
              Prof Lesmana pun mengakui data tersebut. Menurut dia riset atas lamivudine menyatakan pada tahun pertama saja resistenya sudah mencapai 23 persen. Sedangkan pada tahun kelima sudah sebesar 80 persen.
             Pada terapi obat oral, sering digunakan dalam jangka waktu lama. Itu sebabnya faktor resistensi menjadi pilihan yang penting. Menurut Prof Lesmana, di Eropa dan Amerika terapi injeksi menjadi pilihan pertama. Terapi tersebut hanya diberikan paling lama setahun. Tetapi menurutnya interferon (injeksi) tersebut dampaknya berupa kerontokan rambut. Itulah sebabnya, di Indonesia pasien hepatitis B lebih memilih terapi oral.
Hal lain yang juga penting diperhatikan, kata Prof Lesmana, masih mahalnya terapi oral. "Harganya bisa Rp 2 juta," katanya. Harga tersebut untuk pengobatan sebulan. Demikian pula interferon yang sekali injeksi Rp 2 juta per minggu selama setahun.
              Menurut Prof Lesmana, pemerintah seharusnya memperhatikan juga penyakit hepatitis B sejajar dengan penyakit ginjal dan penyakit lainnya seperti HIV/AIDS dan flu burung. Pemerintah mestinya memasukkannya ke program Askeskin sehingga bisa meringankan pasien di Indonesia. "Ini yang sedang kita perjuangkan," katanya. (Mangku).
III. ALTERNATIVE EFEKTIF DAN EFISIEN TERHADAP        PENCEGAHAN PENYAKIT HEPATITIS B DARI PT BIO FARMA Vaksin Hepatitis B
3.1  Manfaat:
1. Vaksin ini dapat mencegah Hepatitis B dan tentunya juga untuk mencegah kanker hati. Vaksin ini memberikan daya lindung yang sangat tinggi (paling kurang 96%) terhadap Hepatitis B, sebagaimana telah terbukti pada berbagai percobaan klinis dan jutaan pemakaiannya. Bila jadwal vaksinasi telah dijalani selengkapnya maka daya lindungnya akan bertahan lebih kurang selama 5 tahun. Setelah itu dapat diberikan tambahan vaksinasi untuk memperpanjang daya lindungnya. ker Hati
Kanker hati merupakan kanker yang sering dijumpai di Indonesia. Kanker ini dihubungkan dengan infeksi Hepatitis B atau Hepatitis C. Artinya pada umumnya penderita kanker hati pernah terinfeksi Hepatitis B atau C.
            Penyakit Hepatitis B dan Hepatitis C sering dialami penduduk Indonesia. Kedua penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh. Virus Hepatitis B dan Hepatitis C dapat ditularkan melalui hubungan seksual, jarum suntik, dan transfusi darah.
             Pada umumnya dewasa ini di negeri kita transfusi darah sudah aman, darah yang akan diberikan diskrining Hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV. Dengan demikian kemungkinan penularan Hepatitis dan HIV melalui transfusi darah sudah menjadi kecil. Gejala penyakit Hepatitis, virus biasanya dimulai dengan demam, pegal otot, mual, mata menjadi kuning, dan air seni berwarna kemerahan seperti air teh. Namun, tidak semua orang mengalami gejala seperti itu.
            Gejala Hepatitis C biasanya lebih ringan dibandingkan dengan Hepatitis A atau B. Setelah terserang Hepatitis A pada umumnya penderita sembuh secara sempurna, tidak ada yang menjadi kronik. Hepatitis B juga sebagian besar akan sembuh dengan baik dan hanya sekitar 5-10 persen yang akan menjadi kronik. Bila hepatitis B menjadi kronik maka sebagian penderita hepatitis B kronik ini akan menjadi sirosis hati dan kanker hati.
Pada Hepatitis C penderita yang menjadi kronik jauh lebih banyak. Sebagian penderita Hepatitis C kronik akan menjadi sirosis hati dan kanker hati. Hanya sebagian kecil saja penderita Hepatitis B yang berkembang menjadi kanker hati. Begitu pula pada penderita Hepatitis C hanya sebagian yang menjadi kanker hati. Biasanya diperlukan waktu 17 sampai dengan 20 tahun seorang yang menderita Hepatitis C untuk berkembang menjadi sirosis hati atau kanker hati.
              Sekarang memang ada obat baru untuk Hepatitis B yang disebut lamivudin. Obat ini berupa tablet yang dimakan sekali sehari. Sedangkan jika diperlukan pengobatan untuk Hepatitis C tersedia obat Interferon (suntikan) dan Ribavirin (kapsul). Namun penggunaan obat-obat tersebut memerlukan pengawasan dokter.
             Hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan anti HBs positif berarti Anda pernah terinfeksi virus Hepatitis B, namun virus tersebut sudah tidak ada lagi dalam darah Anda (HbsAg negatif). Itu bahkan menunjukkan bahwa Anda sekarang sudah mempunyai kekebalan terhadap Hepatitis B (anti HBs positif).
Karena itu selama kadar antibodi anti HBs Anda tinggi, maka Anda tak perlu lagi divaksinasi. Imunisasi Hepatitis B dapat dimulai sejak bayi.
             Anti HCV negatif artinya Anda belum pernah terinfeksi Hepatitis C. Sampai sekarang ini belum ada vaksin untuk Hepatitis C sehingga Anda dianjurkan agar berhati-hati sehingga tidak tertular Hepatitis C. Jadi hindari kontak dengan cairan tubuh orang lain. Salah satu cara yang efektif untuk menurunkan kekerapan kanker hati adalah dengan imunisasi Hepatitis B. Ini telah dibuktikan di banyak negara. Ternyata, negara-negara yang mempunyai program imunisasi Hepatitis B yang baik kekerapan kanker hati menurun dengan nyata.
Mudah-mudahan masyarakat kitapun peduli terhadap imunisasi Hepatitis B ini.
2. Mencegah ibu hamil terjangkit virus Hepatitis B. Hepatitis B adalah virus dengan gejala pembengkakan hati dan gejala lainnya seperti mual, kelelahan dan kulit kuning. Dalam beberapa kasus, Hepatitis B dapat menyebabkan ganguan hati dan kanker hati. Seorang ibu hamil dengan hepatitis  B dapat menulatkan virus ini kepada bayinya saat persalinan. Bayi juga beresiko tinggi mengalami ganguan hati.
3.2  Kandungan vaksin:
Spesifikasi Produk
Nama Produk : HBV recombinant (Hepatitis B Vaccine recombinant)
Kandungan HBsAg : 20 mcg/ml
Kemasan : Single dose (Uniject)
Dosis : 1 ml untuk dewasa (> 10 tahun)
Vaksin dibuat dengan rekayasa genetika sehingga menyerupai virus Hepatits B. Dianggap tidak membahayakan ibu dan janin.
3.3 Waktu Pemberian
Rekomendasi penggunaan Vaksin hepatitis B :
Chang MH, Vaccination against viruses, impact on hepatitis B virus and associated diseases , AASLD Postgraduate course 1999, Mencantumkan hasil penelitian bahwa efek proteksi oleh vaksin hepatitis B Rekombinant terhadap penyakit hepatitis B ; menetap selama 10 tahun pada semua subyek , dengan kesimpulan bahwa :
1. Vaksinasi hepatitis B dapat secara efektif menurunkan angka pengidap maupun angka infeksi Virus Hepatitis B .
2. Vaksinasi hepatitis B rekombinant DNA mempunyai efek proteksi jangka panjang terhadap penyakit hepatitis B .
           Alternative efektif dan efisien dari PT. Bio Farma ( persero ) :
Sesuai paradigma sehat bahwa “PENCEGAHAN LEBIH BAIK DARI PENGOBATAN” maka vaksinasi merupakan langkah bijak sebagai upaya yang paling efektif dan efisien untuk mencegah penularan penyakit Hepatitis B. Berkenaan dengan hal tersebut, penggunanaan VAKSIN HEPATITIS B DNA Rekombinant Uniject produksi PT. Biofarma akan sangat bermanfaat untuk :
1. Efektif untuk mencegah penularan Hepatitis B.
2. Solusi yang paling hemat biaya untuk memutuskan rantai penularan              penyakit Hepatitis B dibandingkan dengan biaya perawatan rumah sakit.
3. Menjaga produktifitas karyawan karena terhindar dari penularan penyakit Hepatitis B yang memerlukan perawatan dan istirahat.
4. Vaksinasi Lebih hemat biaya dibanding terapi obat perorangan (individu).
Tidak lazim di Indonesia. Namun bila Anda bekerja di sektor yang bersentuhan dengan darah, seperti di laboratorium atau fasilitas kesehatan, tidak ada salahnya mendapatkan vaksinasi ini. Dapatkan pada bulan pertama, kedua, dan keenam kehamilan. Setelah divaksinasi kadar antibodi ibu (HbsAG dan Hbs) akan diperiksa. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan ibu sudah memiliki antibodi terhadap virus hepatitis B, tidak perlu divaksinasi lagi. Saat bayi lahir, dalam 24 jam ia sudah harus mendapatkan
Jadwal Pemberian Vaksin Hepatitis B :
Umur
Vaksin
Keterangan
Saat lahir
Saat lahir
HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HbsAg-B ibu positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1. Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka masih dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari.
1 bulan
Hepatitis B-2
Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan.
6 bulan
Hepatitis B-3
HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk mendapatkan respons imun optimal, interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar